---
[Verse 1]
Ada jalan setapak yang selalu memanggil,
meski kuhapus ribuan kali dari ingatan.
Di sana rumah berdiri setengah rapuh,
diisi suara masa lalu yang belum sempat kupeluk.
Aku berjalan dengan ransel penuh keraguan,
menyusuri malam yang terlalu jujur.
Semua lampu jalan seperti bertanya,
“Masihkah kau percaya pada tempat yang menyakitimu dulu?”
---
[Pre-Chorus]
Aku menelan udara dingin,
mencoba meyakinkan diri:
rumah bukan temboknya—
melainkan siapa aku saat mengetuk pintunya.
---
[Chorus]
Pulang bukan tentang kembali,
tapi berdamai dengan diri sendiri.
Meski retak di sana-sini,
aku masih ingin berdiri di ambang pintu itu.
Jika dunia mengusirku,
biarkan rumah memelukku.
Atau setidaknya mengingatkanku
bahwa aku pernah punya arah.
---
[Verse 2]
Jalanan basah memantulkan bayanganku,
seperti dua versi diriku sedang berdebat.
Yang satu ingin pergi selamanya,
yang lain ingin mencoba sekali lagi.
Dan angin malam berbisik pelan,
“Tak ada pulang yang sempurna.”
Tapi mungkin itu cukup,
untuk jiwa yang lelah berkelana.
---
[Bridge]
Jika rumah tak menerimaku,
setidaknya aku telah berani melangkah.
Keberanian kadang lebih penting
daripada kepastian sebuah pelukan.
---
[Chorus — Final]
Pulang, meski gemetar.
Pulang, meski tak yakin.
Karena tak ada perjalanan
yang lebih jujur dari kembali pada luka pertama.
Dan malam ini,
aku mengetuk pintuku sendiri.
---