---
[Verse 1]
Aku menapaki tanah yang asing,
menyusuri rute yang tak dicatat siapa pun.
Kabut menempel di jaketku,
seakan membisikkan cerita dari zaman sebelum aku lahir.
Batu-batu terjal menyambutku,
tapi tak ada yang lebih keras dari kepalaku sendiri.
Langkahku berat, namun tak sia-sia—
setiap inci jalan mengikis beban lama.
---
[Pre-Chorus]
Langit menggantung rendah,
seperti menantangku untuk terus bertahan.
Di balik napas terengah dan lutut bergetar,
ada tekad yang tak lagi bisa kubohongi.
---
[Chorus]
Di puncak tanpa nama,
aku tinggalkan semua resah yang kupaksa kubawa.
Angin meneriaki jujur,
bahwa dunia jauh lebih luas dari kepalaku yang kusut.
Di puncak tanpa nama,
aku akhirnya merasa merdeka.
Bukan dari dunia,
melainkan dari diriku yang lama.
---
[Verse 2]
Jejak bootsku menorehkan garis,
seperti ingin menulis ulang kisah hidupku.
Awan bergerak pelan,
seolah memberi ruang untukku menemukan jawaban.
Aku menoleh ke bawah,
melihat betapa jauhnya aku dari versi diriku yang dulu takut.
Semua yang kulewati tak lagi menakutkan,
karena aku akhirnya belajar memandang ke atas.
---
[Bridge]
Jika esok dunia kembali menindihku,
aku hanya perlu mengingat dingin puncak ini.
Tempat di mana aku tahu,
bahwa rapuh pun bisa berani.
---
[Chorus — Extended]
Di puncak tanpa nama,
aku merayakan runtuh dan bangkitku sendiri.
Tak ada sorak, tak ada saksi—
hanya aku dan langit yang berbagi sunyi.
Di sini aku kecil,
tapi justru merasa paling utuh.
---