---
[Verse 1]
Pagi menyeretku keluar dari ranjang,
kopi pahit mengepul seperti doa yang malas naik.
Asap rokok menari pelan,
membentuk bayangan kapal karam di udara kantor yang sempit.
Di meja kerja, jam berdetak
seperti ombak yang tak sabar menghantam karang.
Tapi aku duduk diam—
menahan badai yang belum sempat kuberi nama.
---
[Pre-Chorus]
Ada suara dari jauh,
lebih keras dari mesin dan deadline:
suara laut di kepalaku,
menggulung, memanggil, memaksa.
---
[Chorus]
Gelombang dan asap
bertarung di dadaku.
Di antara laporan kusut,
aku mendengar panggilan yang dulu kupahami.
Laut memintaku berani,
meski dunia kerja mengikatku ketat.
Dan aku berdiri di tengahnya,
belum tenggelam—belum juga bebas.
---
[Verse 2]
Aku berjalan keluar gedung,
mencari angin yang tak berbau printer dan ambisi murahan.
Di kejauhan, laut membentang,
mengingatkanku pada hari-hari ketika mimpi masih jernih.
Asap terakhir kupelintir ke tanah,
seperti menutup bab yang tak pernah kusuka.
Aku tahu hidup lebih dari lembur dan laporan,
lebih dari takut salah melangkah.
---
[Bridge]
Jika ombak adalah panggilan pulang,
maka asap adalah sisa masa lalu
yang menolak pergi tanpa perlawanan.
Tapi aku—
aku punya dua kaki,
dan keduanya masih bisa berlari
ke arah yang kubutuhkan.
---
[Chorus — Final]
Gelombang dan asap
masih berputar di kepalaku.
Namun kali ini aku memilih,
meski jalannya tak serapi buku panduan kantor.
Laut memintaku jujur,
dunia kerja memintaku tunduk.
Dan aku berdiri di tengah badai
dengan dada yang akhirnya berani berdebar.
---