[Verse 1]
Ada buku tua di laci kamarku,
sampulnya kusam, tulisannya pudar,
tapi di situlah semua kenangan
masih tertinggal di antara jeda dan paragraf.
Beberapa halaman hilang,
entah tercabut waktu atau hilang karena aku sendiri.
Aku mencoba mengingat cerita lengkapnya,
namun bagian kosong justru paling berbisik.
---
[Pre-Chorus]
Mungkin hidup memang begitu:
tidak semua bab perlu dimengerti.
Beberapa hanya perlu diterima
meski tak pernah benar-benar selesai ditulis.
---
[Chorus]
Halaman yang hilang
selalu memanggil pulang.
Meski tak bisa kubaca,
aku tetap merasakannya.
Ada cerita yang patah,
ada makna yang tak pernah utuh.
Namun di sanalah aku belajar
bahwa kehilangan pun bisa jujur.
---
[Verse 2]
Aku menelusuri tiap paragraf,
mencoba menemukan diriku di antara baris lama.
Ada tawa yang masih hangat,
ada luka yang sudah tak lagi sama.
Tapi kekosongan itu—
ruang putih tanpa kata—
justru menjadi cermin paling keras
yang pernah menamparku.
Ia mengingatkanku
bahwa tidak semua harus diisi,
beberapa kekosongan hadir
agar aku belajar bernapas lagi.
---
[Bridge]
Jika suatu hari aku menulis bab baru,
biarkan tetap ada halaman kosong.
Agar aku tahu bahwa hidup tak perlu rapi,
cukup jujur… meski berantakan.
---
[Chorus — Extended]
Halaman yang hilang
tak lagi kutakuti sekarang.
Ia bagian dari kisahku,
bagian yang menuntunku tumbuh.
Meski tak kubaca,
aku tetap membawanya.
Karena ada cerita yang hidup
meski tak pernah ditulis sempurna.
---