[Verse 1]
Ombak menerjang dengan suara serak,
seolah marah karena terlalu banyak rahasia disimpan laut.
Aku berdiri di bibir dermaga,
mengukur jarak antara nyaliku dan ketakutanku sendiri.
Angin asin menampar wajah,
mengaduk segala yang kupendam sejak bertahun lalu.
Di kejauhan, horizon berwarna merah tua,
seperti luka yang sudah terlalu lama dibiarkan.
---
[Pre-Chorus]
Kadang aku merasa laut mengerti
lebih baik daripada manusia mana pun—
ia tak pernah membohongi kita,
ia hanya jujur dengan caranya yang keras.
---
[Chorus]
Suara ombak yang marah
mengajariku cara bertahan.
Meski dunia menenggelamkan,
aku tetap belajar berenang.
Tak ada pelarian mudah,
hanya pilihan untuk berdiri atau hilang.
Dan aku, meski rapuh,
memilih melawan arus yang panjang.
---
[Verse 2]
Kapal tua di pinggir pantai berderit,
seperti mengingatkan bahwa tidak semua perjalanan kembali utuh.
Aku menatap jejak pasir yang segera hilang,
dan memikirkan hal-hal yang juga pernah kutinggalkan.
Aku ingin meneriakan semua yang membebaniku,
tapi laut lebih dulu berteriak untukku.
Dalam tiap hempasan yang kasar,
ada pesan untuk tidak menyerah begitu mudah.
---
[Bridge]
Jika suatu hari aku kembali tenggelam,
biarkan ombak menegurku lagi.
Sebab dari kerasnya,
aku belajar berdiri lebih tinggi.
---
[Chorus — Extended]
Suara ombak yang marah
bukan ancaman, tapi panggilan.
Agar aku tak lupa bahwa bertahan
adalah pilihan yang selalu kupegang.
Di bawah langit kelabu,
aku menantang arus hingga habis waktu.
---