[Verse 1]
Di gedung tinggi berlampu mahal,
mereka bicara tentang rakyat tanpa pernah berjalan di tanahnya.
Dengan jas licin dan kata-kata yang hambar,
mereka menutup telinga, membuka semua celah untuk lupa.
Aku melihat berita seperti melihat komedi,
janji-janji mereka jatuh seperti hujan tanpa awan.
Sementara jalanan penuh suara yang tak pernah didengar,
kita dianggap pelan padahal kita sudah berteriak keras.
---
[Pre-Chorus]
Mereka bilang kita liar,
padahal hanya ingin didengar.
Mereka bilang kita berbahaya,
padahal yang berbahaya kursi mereka.
---
[Chorus]
Mereka takut pada kita,
karena kita tahu apa yang mereka curi.
Kita bukan angka di kertas,
kita napas yang tak mudah dipadamkan.
Mereka sembunyi di balik meja baja,
tapi kita terus melangkah.
Selama suara ini tak mati,
tak ada tirani yang bisa berdiri.
---
[Verse 2]
Di jalan raya, poster-poster lusuh berkibar,
menjadi saksi amarah yang tak dipoles kata manis.
Tangan-tangan kami menggenggam bukan senjata,
hanya harapan agar hari esok tidak sama buruknya.
Tapi mereka menatap dari balik kaca tebal,
mengira jarak bisa membuat mereka suci.
Padahal uang yang mereka simpan
dibangun dari langkah kami yang nyaris mati.
---
[Bridge]
Jika suatu hari suara kami dipaksa padam,
ingatlah ini bukan akhir—hanya jeda.
Sebab sejarah tak pernah menuliskan kemenangan
mereka yang duduk diam dan pura-pura buta.
---
[Chorus — Extended]
Mereka takut pada kita,
karena kita tak lagi diam.
Suara rakyat adalah badai,
dan badai tak bisa ditahan.
Selama satu dari kita berani melawan,
kita tak akan kehilangan masa depan.
---