[Verse 1]
Aku berperang melawan bayangan sendiri,
mengeja luka yang tak pernah ingin kupahami.
Di sudut kamar yang penuh jejak marah,
ada suara kecil yang memintaku menyerah.
Aku mencoba berdamai dengan kepala,
namun isinya seperti jalan rusak tanpa lampu.
Setiap langkah terasa seperti gugur,
tapi aku tetap maju meski hampir runtuh.
---
[Pre-Chorus]
Tak ada yang lebih bising
dari pikiran yang menuduh diri sendiri.
Kadang aku ingin berhenti,
tapi bara kecil tetap memaksa berdiri.
---
[Chorus]
Ini pemberontakan sunyi
yang hanya terdengar oleh detak hati.
Biarkan semua runtuh pelan,
agar aku menemukan diriku kemudian.
Aku tak ingin menang,
aku hanya ingin benar.
Jika harus hancur dulu,
biarkan, asalkan bangunku lebih tegar.
---
[Verse 2]
Aku pernah menutup telinga,
mengira diam bisa menyembuhkan.
Namun suara batin makin keras,
berteriak bahwa aku harus melawan.
Dunia luar terlalu ramai,
namun duniaku lebih seram dari itu.
Bukan monster, bukan orang lain—
hanya diriku yang tak mampu kutaklukkan waktu itu.
---
[Bridge]
Jika esok aku kembali goyah,
ingatkan aku bahwa runtuh bukan kalah.
Di balik setiap retak,
ada ruang untuk tumbuh lebih tegak.
---
[Chorus – Extended]
Ini pemberontakan sunyi,
pertempuran yang tak punya saksi.
Aku merelakan diriku yang lama,
agar versi baru bisa bernapas lega.
Runtuh pelan bukan tragedi,
tapi cara hati memperbaiki diri.
---