Kau hadir bagai meteor, cahayanya tak terperi
Mengangkatku terbang tinggi, melampaui batas bumi
Kita ukir nama di awan, janji itu begitu megah
Mengira kisah ini, takkan pernah bisa punah
Cinta yang kau beri, terasa begitu murni
Setinggi langit biru, tak terjangkau mata ini.
Aku lupa, semakin tinggi ku terbang
Semakin sakit bila nanti terhempas
Aku terlena, oleh indahnya puncak
Dan mengabaikan dalamnya jurang yang kan datang.....
Cinta setinggi langit, kini membuat luka sedalam samudra
Air mataku tumpah, tak terhenti, tak ada muara
Dulu aku menatap bintang, kini aku tercekik gelap
Rasa sakit ini menusuk, tak bisa kututup, tak bisa kuhirap
Betapa ironisnya, yang paling indah, menjadi yang paling perih
Cinta yang agung, kini jadi mahakarya pedih.
Setiap kenangan kita, bagai ombak yang berdebur
Membawa sisa-sisa perahu, yang kini sudah hancur lebur
Di sana, di dasar samudra hatiku yang dingin
Hanya ada puing janji, yang tenggelam dan tak terkirim
Aku coba selam, mencari serpihan cinta yang hilang
Namun yang kutemu, hanya sunyi dan karang yang terjalang......
Aku lupa, semakin tinggi ku terbang
Semakin sakit bila nanti terhempas
Aku terlena, oleh indahnya puncak
Dan mengabaikan dalamnya jurang yang kan datang.
Cinta setinggi langit, kini membuat luka sedalam samudra
Air mataku tumpah, tak terhenti, tak ada muara
Dulu aku menatap bintang, kini aku tercekik gelap
Rasa sakit ini menusuk, tak bisa kututup, tak bisa kuhirap
Betapa ironisnya, yang paling indah, menjadi yang paling perih
Cinta yang agung, kini jadi mahakarya pedih.
Andai aku tahu, ketinggian ini berujung jatuh
Pasti takkan kubiarkan hatiku, sebegini rapuh
Aku hanya ingin tenang, tak perlu lagi keajaiban
Hanya ingin sembuh, dari kedalaman yang menyakitkan.
Di antara langit yang dulu kuraih, dan samudra yang kini menenggelamkan.
Aku hanyalah sisa hati, yang mencoba bertahan.