Aku datang membawa obor kecil
Berharap sinarnya hangatkan dingin hatimu
Kubangun jembatan dari niat yang tulus
Agar kita bisa berjalan berdua lurus
Setiap pagi, kutaruh bunga di mejamu
Menciptakan warna di ruang abu-abumu
Kuberi semua terang yang kumiliki
Berharap kau balas dengan senyum sejati
Aku ulurkan tangan, kau tarik menjauh
Aku beri pelukan, kau balas dengan keluh
Selalu ada jarak yang tak bisa ku sentuh
Rupanya hatimu telah lama keruh
Ku ciptakan cahaya, dari sisa-sisa harap
Tapi kamu menciptakan kegelapan, tanpa setitik pun maaf
Aku tuai mentari, kau tabur malam pekat
Semua usahaku, kau patahkan dengan singkat
Kau hancurkan mentari, hanya demi bulan yang sendu
Kau pilih jurang dalam, saat ku ajak ke puncak tertinggi
Kontras yang tak seimbang, perjuangan yang percuma
Aku berikan hidup, kamu berikan bencana
Kubuka jendela, agar udara masuk segar
Kau justru menutupnya, memilih tinggal di kamar yang samar
Kuberikan kejujuran, sebersih embun pagi
Kau balas dengan topeng, dan dusta yang kau bagi
Aku mencoba memahami, letak kesalahanku
Mencari celah kecil, tempatku bisa masuk lagi
Tapi kau begitu kokoh, di benteng pesimismu
Menikmati gelap, yang kau ciptakan sendiri
Ku bawa oborku pergi...
Biarlah kau sendiri...
Dalam kegelapan...
Yang kau pilih abadi.