(Intro Instrumental)
(Piano melankolis dan biola masuk perlahan. Suasana sendu dan syahdu.)
(Verse 1)
(Vokal lembut, nyaris berbisik)
Kita bertiga, meniti hari yang sama,
Tawa dan duka, kita bagi bersama.
Di bangku taman, di bawah langit senja,
Tak pernah terpikirkan, hati akan terluka.
Kau di kiri, dia di kanan,
Dua wajah yang kini membuat bimbang.
Persahabatan ini suci adanya,
Tapi cinta datang tanpa permisi, merusak suasana.
(Pre-Chorus)
(Sedikit meningkat intensitas emosi)
Malam jadi saksi bisu, air mata mengalir,
Saat kusadari rasa ini mulai mencair.
Bukan untuk satu, tapi untuk keduanya,
Oh, betapa rumitnya takdir bercerita.
(Chorus)
(Vokal penuh penghayatan, diiringi instrumen string)
Sahabat atau cinta? Dilema merajam jiwa.
Jika memilih, salah satunya terluka.
Hatiku terbagi, tak adil rasanya,
Melihat senyum mereka, kini jadi nestapa.
Melodi sendu mengalun, mengiringi sunyi,
Persahabatan ini, akankah tetap abadi?
(Verse 2)
(Tempo kembali melambat)
Kuingat caramu menatapku, penuh makna,
Dan dia yang selalu ada saat ku terlena.
Mereka berdua, permata yang berbeda,
Tapi aku hanya punya satu hati saja.
Kurasakan cemburu saat mereka berdua tertawa,
Tapi kurasakan sakit saat aku bersama salah satunya.
Ini siksaan nyata, tak berujung reda,
Di antara dua insan, yang sama-sama berharga.
(Pre-Chorus)
(Emosi memuncak perlahan)
Haruskah ku berpura-pura, hatiku baik saja?
Menyimpan rasa ini dalam palung terdalam jiwa.
Tapi mata tak bisa bohong, senyuman pun palsu,
Saat dihadapkan pada pilihan yang pilu.
(Chorus)
(Penuh kesedihan)
Sahabat atau cinta? Dilema merajam jiwa.
Jika memilih, salah satunya terluka.
Hatiku terbagi, tak adil rasanya,
Melihat senyum mereka, kini jadi nestapa.
Melodi sendu mengalun, mengiringi sunyi,
Persahabatan ini, akankah tetap abadi?
(Bridge)
(Musik menjadi sangat minimalis, hanya piano/gitar tunggal, vokal sangat rapuh)
Jika waktu bisa diputar kembali,
Aku ingin tetap jadi sahabat sejati.
Tanpa rasa cinta yang menghancurkan ini,
Tanpa dilema yang membuatku mati rasa kini.
Maafkan aku, wahai sahabat terkasih,
Hatiku tersesat, tak tahu arah pasti...
(Chorus Terakhir)
(Instrumen masuk lagi dengan kuat, lalu mereda di akhir)
Sahabat atau cinta? Dilema merajam jiwa.
Jika memilih, salah satunya terluka.
Hatiku terbagi, tak adil rasanya,
Melihat senyum mereka, kini jadi nestapa.
Melodi sendu mengalun, mengiringi sunyi,
Persahabatan ini, akankah tetap abadi?
(Outro Instrumental)
(Biola dan piano bermain melodi yang sama, lalu perlahan menghilang, meninggalkan satu not piano tunggal yang menggantung lalu sunyi.)