[Verse 1]
Jika suatu hari kau melihatku tersenyum,
tanpa jejak bayangmu di mataku,
ingatlah dulu aku pernah runtuh,
menangis dalam sepi, kehilanganmu.
[Pre-Chorus]
Aku pernah genggam namamu di doa,
berharap waktu bisa berpihak lagi,
aku pernah yakin tanpamu ku hampa,
tak ada bahagia, hanya sunyi.
[Chorus]
Namun Tuhan ajarkan arti ikhlas,
bahwa cinta tak selalu harus menggenggam erat,
melepaskanmu bukan berarti hilang,
hanya cara jiwa menemukan tenang.
Seikhlas awan mencintai hujan,
meski akhirnya jatuh ke bumi dan hilang.
[Verse 2]
Aku pernah memohon pada semesta,
agar jalan kita tak pernah berpisah,
namun ternyata cinta pun punya cara,
untuk mengajar hati menerima luka.
[Pre-Chorus]
Aku pernah percaya tanpamu gelap,
aku pernah menolak kenyataan pahit,
tapi perlahan Tuhan beri cahaya,
membuka pintu ikhlas yang tersembunyi.
[Chorus]
Kini ku belajar lepaskan genggam,
bukan menyerah, tapi jalan untuk pulih,
mendoakanmu dari jauh dalam diam,
biarlah waktu menjaga rahasia.
Seikhlas awan mencintai hujan,
meski takdir akhirnya memisahkan.
[Bridge]
Dan bila kelak kau menoleh padaku,
lihatlah senyumku, jangan tangisi rindu,
karena aku pernah, sungguh pernah,
mencintaimu sepenuh jiwa.
[Chorus – Reprise]
Namun Tuhan ajarkan arti ikhlas,
bahwa cinta tak selalu harus saling genggam,
melepaskanmu bukan berarti hilang,
hanya cara jiwa menemukan tenang.
Seikhlas awan mencintai hujan,
meski akhirnya jatuh ke bumi dan hilang.
[Outro]
Jika suatu hari kau temui aku bahagia,
percayalah, pernah ada air mata,
yang kini telah reda dalam doa,
ikhlas merelakanmu bersama-Nya.