[Verse 1]
Ada seorang laki-laki berjalan sendiri,
di wajahnya tersenyum tapi hatinya sepi.
Siang bekerja, malam hanya menatap sunyi,
tak ada tempat pulang, selain dirinya sendiri.
[Pre-Chorus]
Tidur pun tak benar-benar datang,
bayangan hidup terus menyerang.
Di balik kuatnya langkah yang tampak,
ada jiwa yang lama sudah retak.
[Chorus]
Jiwanya mati tapi hidupnya terlihat baik,
ia lawan dunia dengan tubuh yang ringkih.
Malam demi malam ia tak pernah benar pulih,
tak seorang pun tahu, ia hampir menyerah pada diri.
[Verse 2]
Kopi dingin jadi teman bicara,
lampu jalan saksi cerita.
Setiap tarikan napas hanyalah perlawanan,
melewati batas wajar sebuah keteguhan.
[Pre-Chorus]
Orang bilang ia tangguh berdiri,
padahal hatinya runtuh sunyi.
Dalam senyum, dalam sapa,
ada luka yang tak terbaca.
[Chorus]
Jiwanya mati tapi hidupnya terlihat baik,
ia lawan dunia dengan tubuh yang ringkih.
Malam demi malam ia tak pernah benar pulih,
tak seorang pun tahu, ia hampir menyerah pada diri.
[Bridge]
Andai ada yang berhenti sejenak,
mendengar suaranya yang retak.
Mungkin hidup tak terasa seberat,
dan gelap malam tak lagi menjerat.
[Final Chorus]
Jiwanya mati tapi hidupnya terlihat baik,
ia terus berlari meski kakinya perih.
Sialnya dunia tak pernah benar peduli,
ia hanya bayangan di tengah keramaian sunyi.
[Outro]
Ada seorang laki-laki berjalan sendiri,
hidup di dunia… dengan jiwa yang telah mati.