Ada hakikat difahami dengan samadi,
Ada Hakikat pada akal tak ’kan mengabdi;
Samudera suram dan luas tak tampak dasarnya —
Tapi mudah mata menembus air dikendi.
Perkataan dan perbuatan jalanan zahir,
Jalanan batin melintasi langit mendesir;
Jasad menempuh jalanannya yang penuh debu —
Ruh berjalan, seperti ‘ Isa, diatas air.
Hai Ruh! — dari dangkal debu ’pabila merdeka,
S’umpama sukma bebas kau lelangit menghala;
Singgasanamu diangkasa bersama Dewa,
Tak malu kau — lama dalam lempung terpenjara!
Sungguh ajaib! — wajah chantik tiada bandingnya,
Didalam kalbu chermin ini merajalela;
Anehnya bukan wajah itu — anehnya ialah
Kerna chermin ini pun sekaligus wajahnya.
Semua chermin dalam alam ini kusangka,
Membayangkan kechantikanmu laksana surya,
Tidak! dalamnya semua meliput sinarmu —
Kulihat kau sendiri, bukan bayangmu, nyata.
Apa untungnya pipi merah laksana bunga —
Rupa jelita, rambut memahkotakan muka?
’Pabila kechantikan murni meliput alam,
Guna apa kau memeluk kechantikan fana?
Minumlah banyak-banyak anggur asmara dunia,
’Gar dapat bibirmu nan lebih suchi merasa;
Tapi ingat! janganlah dunia ’mabukkan ruhmu —
Lintasi jambatan ini, dengan chepat, mara.
Churahkan pada bibirku anggur purbakala —
Berilah! agar dapat alam baru kuchipta,
Lupakanlah bagiku dunia yang mengabaikan,
Agar dapat kunyanyikan pujian ’tuk kau saja.
Si prajurit menchari shahid di Jihad, runtuh,
Si ashik dilapangan Ishik tewas terbunuh;
Tetapi derajat shahidnya terlebih tinggi:
Dia ditikam kawan, bukan dileburkan musuh.
Dalam segala nyanyianku kaulah kupuja,
Dalam segala chiptaanku kaulah terchipta,
Tetapi m’reka hanya tersenyum mendengarnya, dan,
Melihat sekali, lalu menggeleng kepala.
Walau pun ‘Izrail mengakhiri pujianku,
Tetap bergelora api cinta dalam kalbu;
Choba bongkar nanti tempat debuku terkubur-
Pasti kapan berasap, terbakar api rindu!