Lampu kafe itu kembali menyala, menerangi wajahmu
Wajah yang dulu kusebut rumah, kini hanya lukisan pilu
Kau tertawa lepas, dengan kisah yang bukan lagi milikku
Aku di sini, di sudut yang sama, menjadi penonton yang bisu
Janjiku pada diri sendiri, untuk tak lagi menoleh
Namun setiap waktu, kakiku selalu terseret oleh rindu.
(Chorus)
Aku di sini, melihatmu ke sekian kalinya
Mengulang trauma yang sama, yang tak pernah bisa kucegah
Meskipun aku tersakiti, dan hatiku terbelah dua
Setiap tatapan ini, seperti minum racun yang ku suka
Ini gila, aku tahu, tapi aku tak bisa pergi
Sebab di matamu, masih ada sisa cinta yang kunanti.
(Verse 2)
Berapa kali lagi, harus kulihat kau bahagia tanpa aku?
Berapa banyak lagi senyum, yang harus kuterima sebagai pemicu?
Mungkin aku pecandu rasa sakit, yang tak ingin sembuh
Membiarkan pisau kenangan, menusukku hingga rapuh
Aku mencoba lari, mengganti arah, memutus sambungan
Tapi takdir kita, seolah terikat dalam lingkaran pengulangan.
(Chorus)
Aku di sini, melihatmu ke sekian kalinya
Mengulang trauma yang sama, yang tak pernah bisa kucegah
Meskipun aku tersakiti, dan hatiku terbelah dua
Setiap tatapan ini, seperti minum racun yang ku suka
Ini gila, aku tahu, tapi aku tak bisa pergi
Sebab di matamu, masih ada sisa cinta yang kunanti.
(Bridge)
Orang bilang, melupakan itu soal waktu dan kemauan
Tapi bagaimana aku bisa, jika kau terus jadi tujuan?
Aku tahu ini bodoh, membiarkan luka ini terus menganga
Demi melihat sedetik senyummu, yang tak pernah kurasa.
(Chorus)
Aku di sini, melihatmu ke sekian kalinya
Mengulang trauma yang sama, yang tak pernah bisa kucegah
Meskipun aku tersakiti, dan hatiku terbelah dua
Setiap tatapan ini, seperti minum racun yang ku suka
Ini gila, aku tahu, tapi aku tak bisa pergi
Sebab di matamu, masih ada sisa cinta yang kunanti.
(Outro)
Sampai kapan? Entahlah. Aku akan tetap melihat.
Hingga rasa sakit ini, akhirnya terlewat......