Dalam diam yang tak mengenal awal,
ada gema yang kembali pada dirinya sendiri.
Setiap getar, setiap cahaya,
adalah bayangan dari bayangan lain.
Aku berjalan di antara dua kutub:
yang memberi bentuk
dan yang menerima makna.
Di antara keduanya
aku menemukan hukum tua itu—
bahwa setiap tindakan
adalah anak panah
yang selalu mencari jalan pulang.
Segala yang kulempar pada kehampaan,
kembali sebagai penjelasan
tentang siapa sebenarnya diriku.
Begitulah resiprokal bekerja:
bukan balasan…
tapi cermin yang tak bisa dihindari.
Ia bukan keadilan,
tapi kesetaraan yang terpatri
pada fondasi keberadaan.
Resiprokal—
ritme sunyi yang menembus segala wujud.
Resiprokal—
lingkar pengetahuan yang memakan dirinya sendiri.
Apa yang kuberi kepada waktu,
waktu mengembalikan sebagai pemahaman.
Apa yang kulepas ke dalam malam,
malam menjadikannya cahaya yang lain.
Semesta bukan tempat,
melainkan dialog tanpa suara.
Setiap bintang menyala karena yang lain meredup,
setiap jiwa tumbuh karena jiwa lain runtuh.
Keseimbangan ini bukan pilihan—
ia adalah keniscayaan
yang mengikat segala sesuatu yang pernah ada.
Dan di tengah tarian itu,
aku hanyalah simpul kecil
yang mencoba mengerti
mengapa keberadaan membalas keberadaan.
Aku bertanya pada gelap:
“Dari mana datangnya makna?”
Gelap menjawab:
“Dari apa yang kau berikan padaku.”
Aku bertanya pada cahaya:
“Ke mana perginya doaku?”
Cahaya menjawab:
“Ke tempat yang kau tuju tanpa sadar.
Resiprokal—
hubungan diam antara sebab yang tersembunyi
dan akibat yang tak pernah tidur.
Resiprokal—
lingkaran abadi di mana aku adalah titik
dan garis sekaligus.
Tak ada yang hilang,
tak ada yang sia-sia,
karena semua kembali untuk menjelaskan
mengapa aku harus ada.
Dalam lingkar itu aku tenggelam,
namun di situlah aku memahami:
setiap perjalanan adalah kepulangan,
setiap kehilangan adalah pengetahuan,
dan setiap jiwa
adalah jawaban atas dirinya sendiri.
Resiprokal…
hukum yang menciptakan,
dan hukum yang membenarkan
keberadaanku.