Verse 1)
Aroma dupa adalah ribuan mata leluhur yang berburu,
Menghisap sisa nyawaku agar patuhku tak lagi ragu.
Beringin tua itu merayap, akarnya membelit di bawah kulit,
Menjadikan pundakku altar bagi sejarah yang sakit.
Aku bukan lagi manusia, aku hanya tinta darah di atas lontar,
Ditulis untuk menjadi bisu, dilarang untuk menjadi pijar.
(Verse 2)
Tanah ini memerah subur, namun ia menabukan setiap jejak kakiku,
Namaku menguap, dianggap debu di silsilah yang membeku.
Begitu aku melangkah keluar gerbang, air pasang menghapus asalku,
Menjadikanku tamu di dalam rahim rumah yang melahirkanku.
Sebab jika aku pulang membawa hancur, ambang pintu itu kini memagari dirinya dengan duri yang dingin,
Menganggapku hantu tanpa wajah, yang harus dibuang ke dalam malam yang kelam.
(Pre-Chorus)
[Drum membangun tempo dengan detak jantung yang memburu, vokal mulai serak]
Mereka sebut ini pengabdian suci, aku sebut ini penyangkalan diri yang dirajut rapi,
Tersesat di antara mantra yang memuja kepasrahan sebagai mahkota tertinggi.
Aku berdiri di ujung jurang; dilarang jatuh, namun tak diizinkan pulang!
(Chorus)
[Ledakan Teatrikal: Orkestra biola dan distorsi gitar yang megah]
Bakar silsilah tua yang mencekik denyut nadi ini!
Aku bukan tumbal bagi aturan yang telah lama mati hati!
Bumi tak mengenalku, tanah ini memuntahkan darahku,
Hanya karena pundakku ditakdirkan menenun doa, aku dianggap garis yang dilarang melampaui batasnya!
Hantam tembok tradisi yang membangun takhta di atas tangis kita,
Sebab surga tak mungkin berdiri di atas pondasi luka!
(Verse 3)
[Piano dominan, suasana intim dan sangat pedih]
Kulihat putri kecilku lincah menenun sangkarnya sendiri dari janur,
Belum tahu ia sedang mempersiapkan diri untuk sunyi yang luhur.
Kidhung duka disuapkan ke mulutnya sebagai lagu pengantar tidur,
Mengajarinya cara tunduk sebelum ia sempat untuk bertumbuh.
Bagaimana caraku merobek kutukan ini sebelum ia hangus terbakar?
Menjadi abu di tanah tempat ia diharamkan untuk berakar.
(Bridge)
Tahanlah,bisik Ibu dalam pelukan yang dingin,
Sebab ia pun pernah hancur oleh badai yang sama di masa kemarin.
Jadilah tanah, lanjutnya parau,agar rumah bertahta.
[Musik meledak tiba-tiba dengan distorsi penuh dan vokal 'screamed' yang menyayat]
TAPI AKU MENOLAK JADI ARANG BISU!
AKU BERDAULAT, TAK BISA KAU ATUR!
(Chorus - Full Power Anthem)
Bakar silsilah tua yang mencekik denyut nadi ini!
Aku bukan tumbal bagi aturan yang telah lama mati hati!
Bumi tak mengenalku, tanah ini memuntahkan darahku,
Hanya karena pundakku ditakdirkan menenun doa, aku dianggap garis yang dilarang melampaui batasnya!
(Outro)
Anak perempuanku, biarkan beringin tua itu tetap berdiri sebagai saksi,
Tapi jangan biarkan akarnya menjadi borgol yang mengunci langkahmu untuk lari.
Silsilah itu hanyalah debu di atas meja, kau adalah semestamu yang baru,
Pulanglah ke dalam dirimu sendiri... tempat merdeka tak butuh lagi restu.