[Intro]
[white noise, suara hujan jauh...]
Kadang dia bicara,
tapi jiwanya tak di sana.
[Verse 1]
Matanya nyala, tapi redup di ujung,
senyumnya hadir, tapi rasanya melayang.
Seolah dunia memutar channel lain,
dan dia... tersesat di antara gelombang.
[Pre-Chorus]
Ada kalimat yang tak sempat keluar,
tersangkut di antara napas dan kenangan.
Dia coba tertawa,
tapi sinyal hatinya pelan-pelan hilang.
[Chorus]
Dia di frekuensi yang hilang,
bicara dengan langit, bukan dengan dunia.
Setengah ada, setengah pergi,
mungkin cuma hati yang masih mengerti.
[Drop]
[Verse 2]
Kadang dia diam, lama —
bukan karena dingin, tapi lelah mencari nada.
Dunia terlalu bising,
dan dia butuh ruang untuk mendengar dirinya sendiri.
[Pre-Chorus 2]
Suatu malam dia bilang pelan,
“Kadang aku capek nyambungin perasaan.”
Aku cuma tersenyum —
karena itu bahasa sepi yang cuma dia punya.
[Chorus]
Dia di frekuensi yang hilang,
mencari arah di antara gema.
Setengah sadar, setengah mimpi,
menyusun ulang arti “aku di sini.”
[Bridge]
Kalau kau bisa dengar,
di antara diamnya ada doa.
Bukan untuk didengar —
tapi untuk dipahami.
[Final Chorus]
Dia di frekuensi yang hilang,
tapi kadang dari situ lahir lagu paling indah.
Mungkin dia tak bicara,
tapi jiwanya sedang menyanyi — dalam sunyi.
[Outro]
[suara frekuensi radio memudar, lalu senyap]
Frekuensinya hilang… tapi belum padam.