Kau seperti hujan yang kutunggu,
turun di tanah yang bukan milikku.
Aku berdiri di batas rindu,
mengulurkan hati—
tapi kau berlalu.
Katamu, “Maaf, aku tak bisa.”
Dengan suara yang lebih lembut dari luka.
Tak ada amarah, hanya sunyi
yang diam-diam tumbuh
dalam dada yang mulai sepi.
Aku mencintaimu dengan diam-diam,
lalu dengan kata,
lalu dengan harapan.
Tapi kau memilih jalan lain—
dan itu bukan salahmu.
Karena cinta tak selalu bersambut,
dan keikhlasan adalah bentuk paling jujur
dari mencintai
tanpa harus memiliki.