Di jalur tua yang berdebu dan sesak,
Metro Mini jingga merangkak pelan,
Mengangkut harap dan lelah yang pekat,
Di antara klakson dan debu jalanan.
Bang Somad, sopir renta berdada pipih,
Batuk keringnya menyatu dengan deru mesin,
Menggenggam setir, menahan letih,
Mengantar hidup yang terus melaju pelan.
Pengamen muda, bayi dalam gendongan,
Menyanyi sumbang di tengah kebisingan,
“Kasihan bayi itu,” seru Somad penuh beban,
Namun nyanyian tetap mengalun dalam kesunyian.
Jakarta, kota yang tak pernah tidur,
Menawarkan harapan dalam hiruk-pikuk,
Namun bagi Somad, hidup terasa kabur,
Di antara asap dan impian yang redup.
“Derita sudah di puncak yang tak tersentuh,
Mati pun enggan menghampiri,” katanya lirih,
Namun ia tetap mengemudi penuh keluh,
Demi anak, demi hidup yang terus berselisih.
Hingga di terminal, tubuhnya rebah,
Pingsan dalam diam, dikelilingi resah,
Penumpang terkejut, waktu seolah patah,
Jakarta menyaksikan, tanpa bisa menengadah.