Verse 1)
Kutulis namamu di atas angin,
Agar langit pun mengenal jiwamu.
Setiap huruf melayang seperti daun gugur,
Membisikkan hal yang tak bisa dikendalikan hatiku.
Cinta — tinta yang tak pernah kering,
Di antara waktu, di antara tatapan mata kita.
---
(Pre-Chorus)
Mereka bilang waktu mengubur setiap suara,
Namun diamnya dirimu adalah sumpah paling nyaring yang kutemukan.
---
(Chorus)
Inilah suratku untuk selamanya,
Tertutup oleh napas dan tangan yang bergetar.
Bahkan jika bintang-bintang lupa bersinar,
Nama kita tetap akan saling mengerti.
Sebab cinta bukan api yang cepat padam —
Ia adalah gema setelah paduan suara berhenti.
---
(Verse 2)
Kau ajarkanku bahwa mawar berdarah untuk hidup,
Dan hati harus hancur agar benar-benar bisa memberi.
Di setiap luka, kulihat wajahmu,
Paradoks antara derita dan keanggunan.
Semesta menulis kisah kita terbalik,
Dua jiwa bertemu sebelum dilahirkan.
---
(Pre-Chorus)
Mereka bilang tak ada yang abadi, bahkan emas pun pudar,
Namun kebenaran adalah cinta yang berani menua.
---
(Chorus)
Inilah suratku untuk selamanya,
Tertutup oleh napas dan tangan yang bergetar.
Bahkan jika lautan kehilangan pasangnya,
Jiwa kita tetap akan saling mengerti.
Sebab cinta tak terikat oleh hidup atau mati —
Ia hidup di setiap napas yang tersembunyi.
---
(Bridge)
Jika takdir hanyalah selembar halaman,
Maka biarlah kita menulis di luar sangkar itu.
Sebab bahkan ketika tinta telah pudar,
Kata-katamu akan hidup di tempat malaikat berpijak.
---
(Final Chorus)
Maka ambillah surat ini, jangan kau buka —
Sebab ia tertulis di hati, bukan di kertas.
Ketika dunia runtuh dan bintang-bintang jatuh,
Cinta ini… takkan pernah berakhir.
---
(Outro)
Dan jika selamanya tak punya nama,
Akan kupanggil itu — kamu.