[Petikan gitar akustik yang lembut dan hangat] Dari miliaran jiwa di bawah langit yang tak bertepi, Langkah kita bersinggungan menjadi sebuah keajaiban pasti. Hari ini dan esok, senyumku 'kan terus bertambah, Hanya karena ada kau yang mengubah peluh menjadi anugerah. Menemukanmu bukanlah sebuah kebetulan semata, Itu adalah takdir terindah yang digariskan semesta. [Denting piano mulai masuk secara perlahan] Bila esok tangismu tumpah dan duniamu runtuh, Aku akan menjadi tameng agar hatimu tetap utuh. Jangan pernah takut pada waktu yang terus berjalan maju, Karena setiap detiknya hanya akan memperdalam cintaku. [Suara biola (strings) masuk mengiringi vokal yang tulus dan bertenaga] Mari melangkah perlahan, menapaki hari berdua! Bahkan ketika wajah kita berkerut dan raga ini menua, Aku akan tetap di sisimu, menggenggam tanganmu erat... Menertawakan kenangan yang berlalu dengan hormat! Keajaiban terbesarku bukanlah dunia yang megah ini, Melainkan kenyataan bahwa kau memilih menemaniku di sini! [Musik mereda, hanya tersisa denting piano dan vokal yang berbisik lembut] Dan ketika pandangan kita perlahan mengabur termakan usia, Cinta ini takkan pernah kehilangan rona aslinya. Terima kasih untuk tawanya... terima kasih untuk tangisnya... Terlahir di era yang sama denganmu, adalah kado terindah dari dunia. [Orkestra meledak megah merayakan cinta abadi] Mari melangkah perlahan, menapaki hari berdua! Bahkan ketika wajah kita berkerut dan raga ini menua, Aku akan tetap di sisimu, menggenggam tanganmu erat... Menertawakan kenangan yang berlalu dengan hormat! Keajaiban terbesarku bukanlah dunia yang megah ini, Melainkan kenyataan bahwa kau memilih menemaniku di sini! [Musik memudar secara perlahan, kembali menyisakan petikan gitar akustik] Biar waktu mengambil segalanya dari kita... Asalkan aku tetap bisa melihatmu membuka mata. Aku mencintaimu... hari ini, esok, dan selamanya. Melangkah bersamamu... menua di pelukanmu.