Di langit retak, teriakan pecah,
Panji-panji koyak tersapu darah.
Tombak sihir menghujam dada,
Jerit manusia sirna di udara.
Bayang naga turun dari awan,
Sayapnya menutup mata bulan.
Lidah api mencumbu daging,
Roh terlepas tanpa pembaringan.
Berkilau merah sungai yang mengalir,
Menggandeng nyawa ke gerbang tak kembali.
Di takhta abu, raja pun menangis,
Tersisa arang dari janji suci.
Tanah retak minum darah ksatria,
Batu pun berbisik mantra kematian.
Mata penyihir terbakar dendam,
Menulis maut di udara kelam.
Hujan besi dan doa terhenti,
Tangis ibu tenggelam di petir sihir.
Naga tertawa di antara mayat,
Mengunyah mimpi, meludah ngeri.
Berkilau merah sungai yang mengalir,
Menggandeng nyawa ke gerbang tak kembali.
Di takhta abu, raja pun menangis,
Tersisa arang dari janji suci.
Malam menutup mata medan,
Hanya tulang menyimpan kisah.
Perang ini tak punya pemenang,
Hanya bayang, hanya darah…