Di tepian Selat Seram doa pun mengalun,
Dari tanah Latu, pusaka leluhur dijunjung.
Bermula dari tapak-tapak moyang melangkah,
Menyusuri pesisir, membuka negeri penuh sejarah.
Latu, negeri saksi zaman terus berputar,
Tempat adat dan budaya takkan pernah pudar.
Di bawah naungan gunung, lautan nan biru,
Tersimpan kisah perjuangan dalam tetes waktu.
Dahulu kala, sumpah suci pernah diikrarkan,
Menyatukan basudara, mempererat ikatan.
Pela Gandong saksi rasa persaudaraan,
Menembus pulau-pulau, melampaui perbedaan.
Kini Latu berdiri tegar menatap esok terang,
Mewarisi amanah leluhur, dalam tiap langkah yang tenang.
Ombak yang pecah di pesisir pantai,
Adalah nafas sejarah yang takkan pernah selesai.
Di pesisir Teluk Elpaputih, sejarah bernyawa,
Latu, negeri tua yang ukir permulaan makna.
Dari leluhur yang menebas rimba pertiwi,
Hingga cengkih dan pala, saksi dunia abadi.
Di atas tanah aman dan pusaka warisan,
Darah basudara mengalir dalam sumpah yang dijalin.
Walau ombak memukul dan angin masa berganti,
Adat Pela Gandong tetap teguh, tak akan mati.
Latu benteng ketahanan di Bumi Seram Barat,
Menyimpan cerita perjuangan yang terpatri erat.
Setiap langkah anak negeri adalah detak sejarah,
Merajut masa depan dengan semangat yang indah.
Biarlah ombak menceritakan keteguhan hati,
Biar sejarah mencatat Latu yang abadi berseri.
Tanah adat, tempat beta sujud dan berpijak,
Latu, pusaka Maluku yang bijak dan tak ternilai.