Lampu kota mulai meredup di jendela
Seperti hangatmu yang perlahan sirna
Dulu bangku ini saksi tawa kita
Kini hanya sudut sepi yang tak bersuara
Aku masih di sini, di tempat yang sama
Menghitung retak yang kau tinggalkan tanpa kata
Haruskah aku membenci waktu?
Yang membawa kita bertemu, lalu menjauh dariku
Kau melangkah pergi, membawa separuh nyawa
Meninggalkan aku dalam tanya yang tak ada jawabnya
Selamat tinggal, meski hati belum siap melepas
Sakitnya nyata, sesak di dada kian membekas
Kau pilih jalanmu, aku terjebak di masa lalu
Mencoba menghapus bayangmu di setiap mimpiku
Ternyata selamanya kita hanyalah sementara
Dan kini aku harus terbiasa tanpa sapa
Setiap sudut ruang masih beraroma namamu
Kumpulan pesan singkat yang kini jadi sembilu
Aku mencoba kuat, tersenyum pada dunia
Namun saat sendiri, air mata tak bisa berpura-pura
Mungkin benar, cinta tak harus memiliki
Tapi mengapa melepaskan sesulit ini?
Genggamanmu lepas, tapi bekasnya masih terasa
Menyakitkan... namun aku harus rela
Selamat tinggal, meski hati belum siap melepas
Sakitnya nyata, sesak di dada kian membekas
Kau pilih jalanmu, aku terjebak di masa lalu
Mencoba menghapus bayangmu di setiap mimpiku
Ternyata selamanya kita hanyalah sementara
Dan kini aku harus terbiasa tanpa sapa
Biarlah waktu yang membasuh luka ini
Meski aku tahu, takkan ada yang bisa mengganti
Bahagialah di sana...
Walau bukan lagi denganku.