[Intro]
[sound: gemuruh ombak + dengung elektronik perlahan naik]
(Oh-oh...)
Dunia bernafas pelan, tapi makin panas...
[Verse 1]
Langit retak, tapi kita diam,
Menatap layar, bukan ke awan.
Daun kering jatuh di bulan,
Tapi kau bilang, semua aman.
Aku dengar bumi bergetar,
Tapi nada itu kau abaikan.
Seperti cinta yang terbakar,
Dalam suhu yang perlahan naik perlahan.
[Pre-Chorus]
Kita masih menari,
Di atas garis tipis ini.
Antara hidup dan ilusi,
Satu koma lima derajat jadi mimpi.
[Chorus]
Satu koma lima derajat,
tapi dunia terbakar pelan-pelan.
Kita menari di atas batas,
sambil pura-pura tak kehilangan.
Saat laut naik mengganti daratan,
Suara kita tenggelam di kesunyian.
Satu koma lima derajat,
masihkah ada masa depan?
[Drop - Instrumental]
[Ledakan synth, ambient gitar, dan drum glitch — suara seperti detak bumi]
[Distorsi halus seperti retakan es mencair + Paduan vokal “choir digital” yang terasa dingin dan jauh]
[Verse 2]
Di balik kaca, kota menyala,
tapi bintang pergi entah kemana.
Kita ciptakan surga di layar,
tapi neraka nyata di udara.
Dan jika nanti semua reda,
mungkin hanya kenangan yang tersisa.
Foto-foto di dunia maya,
dari bumi yang dulu bernama “rumah kita.”
[Bridge]
Dengar — bukan hujan, tapi peringatan.
Bukan badai, tapi keputusan.
Semua garis batas perlahan hilang,
saat suhu menggantikan perasaan.
[Final Chorus]
Satu koma lima derajat,
dan cinta pun ikut menguap.
Kita tersenyum di reruntuhan,
berpura-pura itu harapan.
Jika es di kutub pun menangis,
siapa yang dengar selain sunyi?
Satu koma lima derajat,
dunia sudah memanggil kita kembali.
[Outro - Instrumental]
[slow fading, synth berdesis seperti napas terakhir bumi]
(Oh-oh...)
“Masihkah kau dengar aku?”