Di antara bisikan ruang dan waktu yang samar,
sebuah resonansi jiwa tercipta tanpa nama.
Bukan tatapan mata, melainkan kilau tak terdefinisi,
memantul dari kedalaman yang tak terjamah.
Awalnya, hening yang berdenyut,
seperti benih mimpi dalam rahim semesta.
Kemudian, percikan tanpa wujud,
menari di tepian kesadaran yang kabur.
Terjalin tanpa sentuhan fisik,
seperti benang-benang tak terlihat merajut takdir,
kadang terurai dalam desah keraguan yang lirih.
Warna menjelma menjadi aura tak terlukiskan,
memancarkan gradasi perasaan yang tak terperi,
dari kelembutan embun hingga bara yang membakar sunyi.
Kata-kata menjadi hembusan angin yang menyampaikan makna,
melintasi lanskap batin yang tak terpetakan,
meninggalkan jejak pemahaman yang tak terucapkan.
Bentuk bertransformasi dalam tarian imajinasi,
kadang menjadi naungan teduh, kadang kebebasan tanpa jangkar.
Detik-detik melebur dalam keabadian yang berbisik,
hanya ada "keberadaan bersama" dalam dimensi yang tak terhingga.
Bukan garis akhir yang terpatri,
melainkan pusaran energi yang tak pernah usai,
kadang beriak tenang seperti sungai malam,
kadang bergelora seperti badai dalam jiwa.
Cinta, bukan lagi kata yang terucap,
melainkan esensi yang mengalir tanpa batas,
sebuah ketiadaan yang terasa begitu penuh.