(Verse 1)
Pukul tiga dini hari, aku masih terjaga Menatap bayangan di cermin kaca, bertanya: Ini siapa? Wajah itu familiar, tapi sorot matanya terasa asing Tumpukan ekspektasi dan kegelisahan, bersembunyi di balik senyum yang kering Katanya, kita harus jadi versi terbaik dari diri sendiri Tapi versi terbaik itu, seringkali bukan yang aku ingini Pundak ini lelah memanggul definisi sukses orang lain Padahal aku hanya ingin tenang, tanpa harus berpura-pura baik.
(Pre-Chorus)
Media sosial bergemuruh, teriakan bahagia di setiap sudut Seakan semua orang sudah menemukan surga, kecuali aku yang masih tersesat di rimba takut Aku tahu ini ilusi, tapi kenapa rasanya begitu nyata menusuk? Menjadikan aku penonton setia, di panggung hidup yang tak pernah cukup.
(Chorus)
Dan aku terus berjalan, menembus kabut tebal eksistensi Mencari sepetak ruang, di mana jiwa ini bisa bernapas tanpa harus kompromi Tapi bayangan di cermin kaca itu terus membuntuti, tersenyum sinis dan berbisik: "Kau hanya seonggok daging, yang dicetak oleh dunia, bukan takdirmu sendiri." Lelah menipu diri, lelah menjadi manekin tanpa arti.
(Verse 2)
Dulu, aku punya banyak rencana, daftar panjang impian yang membumbung Sekarang, aku hanya ingin tidur nyenyak, tanpa dihantui bayang-bayang Teman-teman mulai sukses, membangun keluarga, membeli rumah dan mobil baru Aku? Masih di sini, merenungi makna kata 'bahagia' yang terasa semu Mereka bilang, "Nikmati saja prosesnya, nanti juga akan sampai" Tapi proses ini terasa seperti labirin, tanpa peta, tanpa kompas, tanpa cahaya yang menyala terang Aku mencoba jujur pada diri, tapi dunia menuntut skenario yang berbeda Memaksa memakai topeng, dan berpura-pura kuat, seperti aktor di panggung drama.
(Pre-Chorus)
Media sosial bergemuruh, teriakan bahagia di setiap sudut Seakan semua orang sudah menemukan surga, kecuali aku yang masih tersesat di rimba takut Aku tahu ini ilusi, tapi kenapa rasanya begitu nyata menusuk? Menjadikan aku penonton setia, di panggung hidup yang tak pernah cukup.
(Chorus)
Dan aku terus berjalan, menembus kabut tebal eksistensi Mencari sepetak ruang, di mana jiwa ini bisa bernapas tanpa harus kompromi Tapi bayangan di cermin kaca itu terus membuntuti, tersenyum sinis dan berbisik: "Kau hanya seonggok daging, yang dicetak oleh dunia, bukan takdirmu sendiri." Lelah menipu diri, lelah menjadi manekin tanpa arti.
(Bridge)
Mungkin aku harus pecahkan cermin itu, hancurkan semua ilusi Mungkin aku harus berhenti peduli, tentang apa kata mereka di televisi Aku hanya ingin kembali, ke inti dari diriku yang paling dasar Tanpa filter, tanpa sensor, tanpa semua beban yang melingkar.
(Outro)
Bayangan itu masih ada... Tersenyum. Diam. Sampai kapan? Aku tak tahu.