[Intro - (spoken - jazzy groove masuk pelan)]
"Lucu ya, kadang aroma jabatan bisa lebih menyengat dari parfum mahal...
Sayangnya bukan wangi kerja keras, tapi bau nafsu yang tak berkelas."
[Verse 1]
Wangi parfummu masuk duluan sebelum langkahmu
Kata-kata manis, tapi arah matamu ngaco melulu
Janjikan reformasi, bawa map dan visi
Tapi kelakuan kayak audisi ajang fantasi
[Pre-Chorus]
Tiap “izin bicara” kau sulap jadi flirting
Tiap ruang konsultasi, berubah jadi casting
Senyummu licin, gayamu confident
Tapi nilai moralmu kayak diskon accident
[Chorus]
Aroma jabatan, memabukkan yang lemah iman
Kau pakai kuasa buat tawar harga perasaan
Tangan dingin, tapi niatmu panas
Pelayanan jadi panggung rayuan yang malas
[Drop]
[Verse 2]
Kau pelajari SOP dengan nada elegan
Tapi SOP-mu sendiri: Sentuh Orang Pelan-pelan
Kau lancar presentasi, licin negosiasi
Tapi tak pandai jaga nafsu pribadi
[Pre-Chorus]
Kau bilang “semua demi kemajuan”
Padahal kau asah lidah buat godaan
Bukan birokrat, tapi pesulap
Menghilang saat tanggung jawab mulai menjerat
[Chorus]
Aroma jabatan, menyebar tanpa perizinan
Kau hisap percaya diri korban-korban kesepian
Setelan rapi, gelar akademik
Tapi kelakuan... lebih mirip predikament klasik
[Bridge - (Neo Soul + spoken interlude)]
Kau bukan pemimpin, kau hanya aktor dalam seragam dinas
Pekerjaanmu nyata, tapi nurani entah di mana kelasnya
Kami tak butuh janji, kami tak butuh basa-basi
Yang kami mau? Kerja jujur dan empati!
[Breakdown - (Nu-Disco funk instrumental, vocal chop nyindir,hook ad-libs)]
"Wangi... tapi busuk..."
"Power... misused..."
"Serve... or seduce?"
"Boss? Or just... excuse?"
[Final Chorus - (full harmony, brass section penuh, dramatik)]
Aroma jabatan, kau pakai buat main peran
Kau mabuk panggung, lupa etika pelayanan
Tapi ingat, setiap langkah licikmu
Punya jejak yang tertulis dalam do'a para korbanmu
[Outro - (smooth jazz outro, rhodes + upright bass, spoken, tenang tapi tajam)]
"Hati-hati… aroma jabatanmu bisa berubah jadi bau bangkai reputasi."