Tatkala mentari menyinsing di ufuk timur,
Hatiku terbit rindu tiada terukur.
Dia, serikandi budi nan luhur,
Pengubat jiwa, penawar kalbu yang hancur.
Wajahnya laksana purnama mengambang,
Langkahnya lembut, seakan bayu petang.
Dalam tiap hela nafasku, namanya terulang,
Dia lah segalanya, tiada banding, tiada kurang.
Andai dunia runtuh seribu kali,
Cintaku padanya kekal takkan mati.
Seperti sungai tak jemu ke lautan menari,
Begitulah kasihku, sejati dan abadi.
Dengan izin Ilahi yang Maha Esa,
Ku pohon dia menjadi suri di jiwa.
Bersama meniti hari tua nan bahagia,
Dia lah segalanya, dambaanku selamanya.