[Instrumental]
Nestapa kelam berawan hitam.
Kala dunia dirundung kabut malam.
Terdengar jeritan wanita tua di ujung malam.
Saat dentingan bergemuruh dan malam semakin suram.
[Chorus]
Terpaku daku, menatap lautan darah.
Melihat tangisan si mungil terduduk dalam pasrah.
Geram daku, berkecamuk batin dan meronta.
Kala ku dapati pecundang-pecundang dengan tawanya.
[Guitar Solo]
[Drop]
Duniaku, duniamu,
dunia kita tengah tercabik.
Tersebab kini Sang Perisai umat
sedang tak membersamai kita.
[Bridge]
Seratus tahun menanti dalam pedih.
Seratus tahun tersiksa dengan keluh.
Seratus tahun tersayat dalam kekejaman.
Seratus tahun sudah tumpahan air mata dan darah
[Chorus]
Khilafah diujung jalan
ingin ku sambut dirimu dengan pekikkan takbir.
Khilafah diujung jalan
Ingin ku obati rindunya umat yang tengah kesakitan.
Khilafah yang di rindukan
syariatmu begitu didambakan
Denganmu, nestapa ini pasti akan berakhir.
[Guitar Solo]
[Bridge]
Khilafah yang di nantikan,
perisai umat yang diperjuangkan.
Ghiroh sang jundullah tak pernah padam,
selama kau belum dalam dekapan
[Chorus]
Seratus tahun tanpa Khilafah
ada sakit dan rindu berkecamuk
Seratus tahun tanpa khilafah
semoga sang jundullah istiqomah memperjuangkanmu
semoga sang jundullah istiqomah memperjuangkanmu, memperjuangkanmu
[Outro]