Verse 1
Di sudut hati yang gelap dan sepi,
Tumbuh subur benih dengki yang murni.
Menatap harta dengan jiwa yang tamak,
Hingga nurani terkubur di bawah semak.
Chorus
Kini saka bangkit menagih janji,
Di kegelapan malam, ia berdiri.
Harus lawan hantu yang kian mendekat,
Terjerat sumpah yang kian mengikat.
Bayang pocong melompat di balik pintu,
Saksi bisu dosa yang membeku.
Outro
Nasi telah jadi bubur, nyawa di ujung kuku,
Menangis darah di bawah nisan yang kaku.
Harta yang dipuja kini jadi abu,
Tertinggal sendiri dalam pelukan debu.
Tamak yang membawa maut, dengki yang membelenggu,
Menjadi santapan saka dalam sunyi yang membeku.