)
Tempo: Sedang, irama gitar akustik yang mengalun lembut.
Verse 1
(Awalnya pelan, suara gitar tunggal)
Angin membawa sehelai data,
Lewat retina, menuju cakra kepala.
Di sana bersemayam sang arsitek logika,
Membaca peta, merangkai bahasa.
Ia hitung jarak, ia ukur waktu,
Setiap simpul keraguan, ia bentang lurus satu-satu.
Katanya, dua tambah dua selalu pasti empat,
Di antara hitam dan putih, tak ada tempat berdebat.
Chorus
(Irama mulai penuh, strumming gitar yang lebih lebar)
Namun ada jurang, di ujung sinaps yang beku,
Tempat akal tak sampai, walau telah diukur seribu.
Itu dia Rasa, liar tanpa algoritma,
Meluap dari dada, tanpa perlu teorema.
Ia nyanyian senja, walau fakta berkata mendung,
Ia genggam cahaya, saat pikiran terkurung.
Fungsi Otak mencoba merangkai dalil,
Tapi Rasa hanya ingin mendekap, tak perlu memilih.
Verse 2
(Kembali tenang, mungkin diiringi mandolin atau harmonica ringan)
Kau kirimkan pesan, singkat dan tanpa embel-embel,
Tujuh kata yang tertulis, di layar ponselku yang sepi.
Otakku membedah, mencari makna literal,
Apakah ini janji, atau hanya basa-basi?
Ia susun diagram, pro dan kontra di sisi,
Mencoba memecahkan kode dari diksi yang kau beri.
Tapi di sudut lain, di ruang yang tak bernama,
Jantungku berdebar kencang, menari tanpa irama.
Chorus
(Lebih kuat, dengan sentuhan bass yang hangat)
Sebab ada jurang, di ujung sinaps yang beku,
Tempat akal tak sampai, walau telah diukur seribu.
Itu dia Rasa, liar tanpa algoritma,
Meluap dari dada, tanpa perlu teorema.
Ia nyanyian senja, walau fakta berkata mendung,
Ia genggam cahaya, saat pikiran terkurung.
Fungsi Otak mencoba merangkai dalil,
Tapi Rasa hanya ingin mendekap, tak perlu memilih.
Bridge
(Bagian paling emosional, melodi melambat, suara vokal lebih intim)
Mungkin kita tak perlu, memilih mana yang paling benar,
Antara peta pikiran, dan gemuruh yang menyebar.
Biarkan Otak menjadi kompas, penunjuk arah pulang,
Tapi biarkan Rasa yang jadi api, agar jiwa tak hilang.
Sebab manusia, bukan sekadar kalkulator dingin,
Kita adalah puisi, yang ditulis dengan air mata dan ingin.
Chorus
(Penuh dan megah, mungkin dengan backing vocal lembut)
Oh, tiada jurang, di ujung sinaps yang beku, (Tiada jurang...)
Kini keduanya menyatu, walau tak pernah bertemu.
Inilah dia Rasa, liar tanpa algoritma,
Meluap dari dada, tanpa perlu teorema.
Ia nyanyian senja, walau fakta berkata mendung,
Ia genggam cahaya, saat pikiran terkurung.
Fungsi Otak tak lagi mencoba merangkai dalil,
Karena Rasa telah menemukan tempatnya, di hatimu yang terpilih.
Outro
(Melodi kembali pada gitar tunggal, semakin pelan)
Di hatimu yang terpilih...
Empat... bukan lagi sebuah kepastian.
Hanya sebuah perasaan...
(Melodi gitar memudar perlahan)