Surau yang Runtuh
Di tepian jalan sunyi dan sepi,
Berdiri surau tua nyaris mati,
Di sana Kakek berdoa sendiri,
Menjaga rumah suci tak bertepi.
Hari berlalu, doa menggema,
Namun dunia kian terlupa,
Anak berlari, perempuan tertawa,
Tak lagi surau jadi penjaga.
Kakek berzikir di malam pekat,
Mengharap cahaya dari langit dekat,
Namun fitnah datang mengikat erat,
Menjadi luka yang kian berat.
Lalu surau pun roboh akhirnya,
Tak ada tangan menahan tiangnya,
Yang tersisa hanya cerita lama,
Tentang iman yang dipermainkan dunia.
Di ujung waktu, sujud terakhir,
Kakek tersenyum dalam air,
Mungkin surga tetap menanti,
Meski dunia tak peduli lagi.