Sepuluh ribu kali penuh angin dan kabut, sepuluh ribu kali penuh duka.
Mencari seorang sahabat sejati, tapi entah di mana mencarinya.
Mencari di mana bisa bertemu kekasih tercinta
Yang ada hanya kesepian dengan satu rasa pilu.
Aku telah melangkahi ratusan persimpangan jalan.
Angin meniup, awan berarak, membuat hidup terikat.
Di belakang hanyalah tahun-tahun yang layu.
Di depan hanyalah bagian-bagian hidup yang penuh ketidakpastian.
Segelas arak pahit tiada siapa yang mau meneguk hingga habis.
Sebait puisi sedih tiada siapa yang sudi mendengar.
Seorang pengembara melepaskan hidupnya di atas tuts batu.
Hanya langit pun berubah menjadi hening
Sepuluh ribu kali penuh angin dan kabut, sepuluh ribu kali penuh duka.
Mencari seorang sahabat sejati, entah di mana bisa kutemukan.
Mencari di mana bisa berjumpa kekasih tercinta,
Yang terlihat hanyalah kesepian dalam satu kesedihan.
Tahun-tahun berlalu bagaikan angin di tepi beranda,
Kenangan jatuh setetes demi setetes penuh kesedihan.
Adakah seseorang menunggu di tempat yang jauh dan sunyi,
Ataukah hanya diriku sendiri di antara jalinan takdir
Pakaian berdebu dunia belum pernah sekalipun dibersihkan,
Cinta pun belum pernah sekali menjadi sempurna.
Orang yang dulu kucinta kini bagaikan mimpi yang dingin,
Kusentuh — hanya membuat hati terasa semakin sakit
Sepuluh ribu kali penuh angin dan kabut, sepuluh ribu kali penuh duka.
Mencari seorang sahabat sejati, entah di mana bisa ditemukan.
Mencari di mana dapat bertemu kekasih tercinta,
Yang terlihat hanyalah kesepian dalam satu kesedihan.
Oh… ah… di manakah orang itu?
Oh… huh… adakah masih ada yang memanggil?
Hanya tersisa diriku di antara bumi dan langit,
Bersama satu kesedihan saja