Subuh datang tanpa suara,
menyusup pelan di sela tirai jendela.
Langit masih menggigil biru tua,
sementara embun diam-diam berdoa.
Adzan memanggil dari kejauhan,
menyentuh hati yang semalam rawan.
Tak banyak kata, hanya isyarat,
bahwa pagi ini adalah harapan yang taat.
Langkah kaki menuju sajadah,
dengan hati separuh pasrah, separuh resah.
Namun waktu seakan melambat,
memberi ruang untuk tenang yang hangat.
Subuh adalah pelukan lembut langit,
yang memaafkan semalam yang sempit.
Ia datang bukan untuk memaksa,
tapi mengingatkan bahwa hidup masih bisa.
Adzan memanggil dari kejauhan,
menyentuh hati yang semalam rawan.
Tak banyak kata, hanya isyarat,
bahwa pagi ini adalah harapan yang taat.
Langkah kaki menuju sajadah,
dengan hati separuh pasrah, separuh resah.
Namun waktu seakan melambat,
memberi ruang untuk tenang yang hangat.