_Verse 1_
Kamu datang seperti fajar, menyapa hati yang sunyi,
Menggukir harapan di sudut senja, berbisik “kamu milikku”.
Namun waktu menari, menukik jejak yang terlukis,
Saatnya kata‑kata terputus, tak lagi bersatu.
_Pre‑Chorus_
Aku mencoba menahan rindu, menutup luka dengan doa,
Tapi setiap langkah terasa berat, menapaki lorong kenangan.
_Chorus_
Cinta berakhir kata, di ujung bibir yang tak terucap,
Kisah kita terangkai dalam diam, menanti peluan baru.
Hujan menggulung jejak, namun hati tetap bernyanyi,
“Cinta berakhir kata,” namun cinta tetap abadi.
_Verse 2_
Surat yang tak terkirim, terselip di antara daun,
Mata yang tak lagi menatap, namun kenangan tetap hangat.
Kita belajar melepaskan, meski hati masih berdegup,
Berjalan masing‑masing, menanti peluang yang lain.
_Bridge_
Bukan akhir yang menakutkan, tapi awal yang tersembunyi,
Di setiap tetes air mata, ada pelajaran yang menginspirasi.
_Chorus_
Cinta berakhir kata, di ujung bibir yang tak terucap,
Kisah kita terangkai dalam diam, menanti peluan baru.
Hujan menggulung jejak, namun hati tetap bernyanyi,
“Cinta berakhir kata,” namun cinta tetap abadi.
_Outro_
Cinta berakhir kata, namun melaju dalam kenangan,
Selama napas masih berirama, kisah kita tetap hidup.