Dulu kita bertemu tanpa rencana,
Dua hati asing yang saling bicara.
Langkah kecil, cerita dimulai,
Tanpa sadar, kita terikat erat.
Kita lewati senja dan badai,
Tangis dan tawa di satu pelangi.
Kupikir takdir telah memilih,
Ternyata waktu tak ingin mengizini.
Kini kau di sana, aku di sini,
Dua hati yang dulu sehati.
Waktu mencuri semua warna,
Menyisakan asing di antara kita.
Dulu langkahmu adalah rumah,
Suaramu adalah damai yang nyata.
Kini hanya bayang yang tersisa,
Berjalan sendiri dalam gelapnya.
Rasa tak ingin kehilangan,
Berakhir harus mengikhlaskan.
Tak ada benci, tak ada dendam,
Hanya rindu yang tak bisa tenggelam.
Meski akhirnya asing kembali,
Kuharap kau tetap bahagia nanti.
Aku dan kamu… hanya cerita,
Yang harus rela untuk sirna.