[Intro]
[piano lembut, ambience hujan tipis]
Lima tahun...
cukup untuk belajar bahwa cinta tak selalu satu arah.
[Verse 1]
Pernah ada tawa di meja makan,
rencana kecil tentang masa depan.
Tapi waktu perlahan menghapus,
warna yang dulu mereka lukis bersama.
[Pre-Chorus]
Dia percaya, dia mencoba,
meski hati sering tak paham logika.
Dan saat semuanya perlahan retak,
dia tetap menata serpihannya sendiri.
[Chorus]
Lima tahun, seribu janji,
tak semua bisa dibawa pergi.
Tapi dari sisa yang tersisa,
dia temukan arti kata “berdiri.”
[Drop]
[Verse 2]
Ada luka yang tak butuh nama,
hanya diam yang tahu rasanya.
Kadang dia masih menoleh ke belakang,
bukan untuk rindu — hanya untuk memastikan sudah kuat berjalan.
[Pre-Chorus 2]
Dia tak benci, dia tak ingin kembali,
hanya mengingat tanpa sesali.
Karena dari patah yang ia rawat,
tumbuh dirinya yang lebih tenang.
[Chorus]
Lima tahun, seribu janji,
tak semua jadi akhir tragis.
Beberapa hanyalah bab yang tertulis,
agar dia tahu: cinta pun bisa realistis.
[Bridge]
Dan di malam paling sepi,
dia menatap langit tanpa air mata.
Karena kini dia tahu —
beberapa kehilangan justru menyelamatkannya.
[Final Chorus]
Lima tahun, seribu janji,
bukan kenangan, tapi pelajaran hidup yang murni.
Dan saat pagi datang lagi,
dia tersenyum... pada diri sendiri.
[Outro]
[suara hujan berhenti, piano fade out]
“Terima kasih, masa lalu —
karena darimu... aku belajar mencintai tanpa harus memiliki.”