Bait 1
(Vokal lembut, sedikit bergetar)
Di sudut kamar yang sunyi, kupejamkan mata
Mencoba usir penat, dari hari yang tak terkata
Punggung ini terasa berat, memikul beban sendiri
Senyum yang kuukir hari ini, hanyalah topeng sepi.
Pre-Chorus
(Nada mulai sedikit meninggi, emosi tertahan)
Aku bangun pagi, sarapan dengan janji
Bahwa hari ini, takkan ada air mata jatuh lagi
Tangan ini cekatan, merapikan segala resah
Mengurus mimpi-mimpi yang nyaris runtuh dan patah.
Chorus
(Nada memuncak, melodi yang menghanyutkan, alunan piano dan string section masuk)
Oh, andai saja, sedetik saja, kuizinkan diri lemah
Bersandar dan memohon, ‘peluk aku, tolonglah’
Tapi tak bisa, dunia ini meminta baja, bukan sutra
Ku harus berdiri tegak, walau hati menjerit rindu dimanja.
Seorang diri, ku hapus air mata yang tak pernah tumpah.
Bait 2
(Vokal kembali pelan, lebih introspektif)
Aku lihat bayangan diriku, di cermin yang berdebu
Gadis kecil yang dulu manja, kini hampir tak bertemu
Dulu, sedikit sakit, ada tangan yang sigap menolong
Kini, luka yang menganga, kubalut sendiri tanpa berdebat panjang.
Pre-Chorus
(Nada mulai sedikit meninggi, emosi tertahan)
Mereka bilang aku kuat, mereka bilang aku hebat
Tak pernah tahu malamku, dihiasi isak yang tersirat
Bukan tak ingin bercerita, bukan tak ingin berbagi
Hanya tak ingin, beban mereka, bertambah karena ini.
Chorus
(Nada memuncak, melodi yang menghanyutkan, alunan piano dan string section kembali kuat)
Oh, andai saja, sedetik saja, kuizinkan diri lemah
Bersandar dan memohon, ‘peluk aku, tolonglah’
Tapi tak bisa, dunia ini meminta baja, bukan sutra
Ku harus berdiri tegak, walau hati menjerit rindu dimanja.
Seorang diri, ku hapus air mata yang tak pernah tumpah.
Bridge
(Musik melambat, hanya vokal dan piano lembut, bagian paling 'healing' dan introspektif)
Aku tahu ini jalanku, pelajaran yang harus ku telan
Menempa diri, dari rapuh menjadi kekuatan
Mungkin suatu hari, akan ada tempat ku berlabuh
Tapi hingga saat itu, biarlah rindu ini, yang menjadi kekuatan sunyiku.
Chorus
(Kembali ke puncak emosi, namun lebih ikhlas)
Oh, andai saja, sedetik saja, kuizinkan diri lemah
... * (Lagu sejenak hening, lalu vokal masuk lagi dengan suara yang sedikit lebih mantap)*
Namun tak apa, karena hati ini terbuat dari baja, bukan sutra
Ku tetap berdiri tegak, walau hati pernah menjerit rindu dimanja.
Tersenyum tegar, memeluk segala luka, kini aku bisa.
Outro
(Musik mereda perlahan, piano solo dengan melodi yang menenangkan)
Hanya rindu... akan lembutnya sentuhan.
(Satu not piano terakhir, perlahan menghilang)