Purnama di angkasa terlihat bersahaja
di temani kejora saling bercengkrama
andai saja ia tahu, ada yang kutitipkan untuknya
kepada seorang jelita yang kusebut "athena"
Athena
Kau duduk di singgasana dusta
Sembari merangkai tinta bagai aurora
Elok dari utara namun menipu seperti durjana
Mereka menilai dirimu laksana awam surga
Paras rona dengan berbagai nuansa
Serum, lensa mata, dan maskara
Berdikara tapi dursila perilakunya
Monikermu di atas kertas adalah Athena
Terhimpun dari historis dewa
Menubuatkan hierarki batas manusia dan nirwana
Indah di aksara tapi busuk maknanya
Seribu satu goresan pena kau tulis sedemikian rupa
Menyulam kata seperti dewi fortuna
Keberuntungan berpihak pada yang berjaya
Padahal kau hanya sebatas mahluk fana
Kau merayu jiwa sebagai pijakan takhta
Kau bersandiwara atas paraf cinta
Kuasa, tahta, kekayaan semesta
Kau jadikan gugatan bergaris tangan cinta
Athena
Mereka menyebutmu adalah mahakarya pencipta
Mereka berbisik pada sesamanya
Bahwa kau adalah insan paling mulia
Tapi aku menyebutmu pelacur istana
Keburukan yang terbalut topeng estetika
Kesesatan yang terbalut sampul agama
Adalah skenariomu di hadapan Sang Raja
Athena
Kau membius insan dengan senyum bergelora
Kau rajut ambisi bersama doktrin romansa
Namun putikmu gugur di makan mahkota
Athena
Di bawah rembulan kutitip murka dan luka
Keelokanmu hanyalah bara semu belaka
Yang kelak berpijar bersama dosamu di neraka