(Intro)
Kadang, hidup cuma butuh diam sebentar,
buat dengerin suara yang gak pernah kita kasih tempat.
Semesta gak buru-buru,
kamu juga gak harus.
---
(Verse 1)
Kamu sering tanya kenapa dunia terasa berat,
padahal yang kamu bawa cuma harapan.
Tapi harapan juga bisa jadi beban,
kalau kamu lupa cara berhenti sejenak.
Aku tahu kamu cuma pengin dimengerti,
tapi gak semua orang bisa baca isi hati.
Dan itu gak apa-apa,
karena gak semua yang sunyi berarti sepi.
---
(Pre-Chorus)
Waktu gak pernah benar-benar berhenti,
kita aja yang kadang tersesat di dalamnya.
Kamu bakal sadar nanti,
gak semua yang belum datang harus kamu kejar.
---
(Chorus)
Hiduplah pelan-pelan,
biar kamu sempat lihat maknanya.
Luka gak harus hilang untuk kamu bahagia,
kadang, cukup diterima saja.
Dan kalau kamu lelah hari ini,
istirahatlah — dunia gak akan ke mana.
---
(Verse 2)
Ada hari di mana semua terasa sia-sia,
dan kamu bakal pengin nyerah begitu aja.
Tapi percayalah,
rasa ingin berhenti itu cuma tanda kamu masih punya arah.
Kamu gak harus selalu kuat,
cukup jujur sama diri sendiri.
Karena keberanian yang sejati
adalah berani merasa lemah tapi tetap berjalan.
---
(Pre-Chorus)
Semesta gak janji semua akan mudah,
tapi dia juga gak pernah diam.
Dia dengar, meski tanpa kata,
setiap doa yang kamu bisikkan dalam diam.
---
(Chorus)
Hiduplah pelan-pelan,
biar kamu sempat lihat maknanya.
Luka gak harus hilang untuk kamu bahagia,
kadang, cukup diterima saja.
Dan kalau kamu lelah hari ini,
istirahatlah — dunia gak akan ke mana.
---
(Bridge)
Kamu bukan gagal, kamu cuma tumbuh.
Dan tumbuh itu gak selalu indah.
Tapi dari situ, kamu bakal ngerti:
segala yang retak pun bisa jadi cahaya.
---
(Final Chorus)
Hiduplah pelan-pelan,
jangan paksa dirimu jadi sempurna.
Kebahagiaan gak datang tiba-tiba,
dia tumbuh dari cara kamu memaafkan hidup.
Dan ketika kamu udah bisa tersenyum di tengah luka,
itu artinya kamu udah sampai.
---
(Outro)
Sampai kamu tenang...
dan dunia terasa ringan lagi.