

Prompt / Lyrics
[Verse 1] Hati menangis, tapi dunia tak dengar, Senyum di wajah, dalam dada bergelar. Setiap rindu jadi racun berduri, Cinta tinggal abu, luka tak pernah pergi. Aku hidup, tapi kosong tak bernyawa, Janji manis, akhirnya hanya dusta. Malam jadi saksi tangisan rahsia, Aku pendam semua, tak siapa yang tahu cerita. Air mata turun tanpa alasan, Aku lawan luka, tapi semakin parah tekanan. Dada ni sesak, jiwa pun retak, Kenapa sayang, kalau akhirnya pun gelap? --- [Chorus / Hook] Kepedihan ini tak nampak, tapi membunuh, Setiap detik sunyi, aku terus jatuh. Kau tak tahu, aku senyum sambil mati, Hati ini jerit, tapi siapa nak peduli? (Tak siapa nak peduli...) Hati ini jerit dalam sepi. (Tak siapa nak fahami...) Kepedihan jadi mimpi yang tak henti. --- [Verse 2] Aku pernah jadi cahaya, sekarang kelam, Harapan aku kau patahkan perlahan-lahan. Kenangan itu bagaikan pisau tumpul, Tak bunuh cepat, tapi sakit dia bertumpuk. Aku tak minta banyak, cuma sedikit kasih, Tapi kau pergi, tinggal aku dengan perih. Setiap “okay” aku – semua tipu, Dalam hati badai, luar tampak lesu. Mereka kata masa ubatkan luka, Tapi masa cuma biasakan duka. Kau tinggalkan aku dalam gelap, Satu-satu pergi, yang tinggal cuma harap. --- [Chorus / Hook – ulang] Kepedihan ini tak nampak, tapi membunuh, Setiap detik sunyi, aku terus jatuh. Kau tak tahu, aku senyum sambil mati, Hati ini jerit, tapi siapa nak peduli? (Tak siapa nak peduli...) Hati ini jerit dalam sepi. (Tak siapa nak fahami...) Kepedihan jadi mimpi yang tak henti. --- [Bridge – perlahan & emosional] Aku rindu diri aku yang dulu, Sebelum hati ini hancur dan beku. Aku masih berdiri walau hampir tumbang, Sebab aku tahu – luka ni bukan penghalang. --- [Outro – spoken or slow rap] Kepedihan ni, aku tanggung sendiri. Tak perlu simpati, cukup kau mengerti. Kalau tak mampu setia, jangan janji. Biar aku sakit, asal aku tak hipokrit lagi.
Tags
rap, hip hop, ambient, male
3:21
No
7/27/2025