[Intro - Ambience ruang kosong. Reverb panjang. Hampir hening.]
[Spoken word (tenang, dalam, tanpa emosi berlebihan)]
“Dulu ia dibaca dengan harapan…
hari ini ia dibuka dengan ragu.”
[Jeda 1 detik, Satu nada violin minor panjang (D), Satu dentuman tom rendah — dum]
[Bass masuk perlahan.]
[Verse 1]
Di rak paling tinggi, kitab itu berdebu
Huruf-hurufnya masih utuh,
tapi maknanya rapuh
Ia pernah dibaca seperti doa
di ruang-ruang penuh cahaya
Kini ia berbisik pelan
di antara palu dan meja
[Pre-Chorus]
Janji pernah tumbuh seperti taman
Disiram sumpah dan tangan kanan
Namun angin datang membawa
nama-nama yang dilupakan
[Chorus - (Hook)]
Konstitusi yang lelah…
berdiri tapi tak lagi gagah
Konstitusi yang lelah…
siapa yang masih menjaganya?
Konstitusi yang lelah…
retak namun tak menyerah
[Verse 2]
Di lorong panjang pengadilan
langkah terdengar seperti hujan
Ada yang pulang tanpa jawaban
ada yang menang tanpa alasan
Timbangan berdiri di tengah ruangan
namun jarumnya sering goyah
Keadilan digambar rapi
tapi garisnya mudah berubah
[Pre-Chorus 2]
Kami mengetuk pintu yang sama
dengan suara yang berbeda
Namun gema hanya kembali
tanpa pernah membuka
[Chorus - (Lebih Kuat)]
Konstitusi yang lelah…
berdiri tapi tak lagi gagah
Konstitusi yang lelah…
siapa yang masih menjaganya?
Konstitusi yang lelah…
retak namun tak menyerah
[Bridge - (Sunyi & Reflektif)]
Jika pasal hanyalah tinta
dan tinta mudah mengering
Lalu pada siapa kita titipkan
hari esok yang bening?
[Final Chorus - (Orkestra Penuh)]
Konstitusi yang lelah…
kami masih membacanya
Konstitusi yang lelah…
kami belum menyerah
Retak bukan akhir cerita
retak adalah tanda luka
[Outro - (Pelan, Menggantung)]
Jika ia benar-benar lelah,
mungkin bukan ia yang rapuh—
mungkin tangan kita
yang terlalu sering melepaskannya.
[Instrumental]