Di bawah langit kelabu,
butir-butir hujan jatuh perlahan,
seperti pesan rindu
yang tak pernah sempat kukirimkan.
Setiap tetesnya memanggil namamu,
menyentuh tanah dengan suara lirih,
seakan tahu ada hati
yang menunggu tanpa suara.
Rinduku menyerupai hujan,
kadang deras, kadang hanya gerimis,
namun selalu jatuh
ke tempat yang sama:
namamu.
Di antara kilat dan petir,
aku belajar bahwa hujan
bukan hanya tentang air yang turun,
tapi tentang hati yang tak henti
mencari pulang.