(Intro - suara seruling Jepang yang sendu, seperti angin malam)
Hujan gerimis membasahi pipiku…
Di bawah langit senja, aku sendirian lagi…
(Bait 1 - suara pelan, merenung)
Gadis SMP, rambutnya bergelombang lembut
Berjalan lesu di koridor sekolah yang sepi
Dulu, tawa ceria menghiasi hari-harinya
Kini, hanya bisikan kejam yang terdengar:
"Goblok! Asu! Anjing kau!"
Aku duduk di bangku kosong, mulut bisik: "kenapa aku dibilang begitu? Apa aku sehina itu?"
(Bait 2 - suara mulai bergetar, menahan tangis)
Teman-teman yang dulu berjanji setia
Kini berbalik menghina rame-rame:
"Tolol! Miskin! Haram! Dasar anak di luar nikah!"
Satu cewek berteriak lebih keras: "dia juga anak pembawa sial! Jauh-jauh dari dia!"
Mereka injak-injak harga diriku, melemparkan kertas ke wajahku
Ejekan mereka menusuk jantungku: "Najis! Ih jijik!"
Di kelas, aku terdiam, hatiku mulai putus asa — "kenapa aku terlahir? Aku memang tidak patut lahir..."
(Bait 3 - suara semakin lirih, penuh kepedihan)
Sahabat yang kupercaya sepenuh hati
Ternyata menyebarkan fitnah itu lebih jauh: "Kristen, anak luar nikah, pembawa sial — benar-benar jijik!"
Hatiku hancur berkeping-keping, aku berdiri dan menangis terisak:
(suara agak nangis) "Hentikan... aku sudah muak dengan ini! Apa aku sehina itu sampai harus disakiti begini?!"
Lalu aku teriak lembut, mataku tertutup: "kalau aku boleh memilih... lebih baik aku tidak lahir saja! Aku memang tidak patut lahir!"
Di tengah keramaian, tak ada yang mau mendengar — cuma hujan yang turun terus, menyemprot wajahku yang basah air mata
(Chorus - suara lebih kuat, melodi sedih ala Jepang)
Sakura yang terluka, gugur sebelum waktunya
Diinjak-injak, dihina, dikhianati — semua sudah cukup
"Anak pembawa sial" — kata itu terngiang terus di kepala
"Kenapa aku terlahir?" — pertanyaan yang tak ada jawaban
"Apa aku sehina itu? Aku memang tidak patut lahir..." — bisikan yang merusak hati
Putus asa meliputi diriku, rasa sakitnya tak terukur
Meskipun hati ini penuh luka yang dalam
(Bait 4 - suara sedikit lemah, masih nangis)
Malam sunyi menjadi saksi bisu, aku memegang bantal lusuh
Air mata masih mengalir, aku melihat jendela hujan:
"kenapa dunia ini butuh aku yang begini?"
"Aku memang tidak patut lahir... semua akan lebih baik tanpa aku..."
Aku berjanji pada diri sendiri, meskipun lemah:
"ini bukan akhir... tapi aku benar-benar lelah..."
(Outro - suara seruling Jepang semakin pelan, menghilang)
Di bawah langit malam yang tenang…
Sakura yang terluka, hanya bisa menunggu hari esok…