[Soft piano plays A minor progression, Slow fade-in of pad textures]
Tak ada suara, tapi hati menjerit
Setiap malam ku diam, tapi jiwaku merintih sakit
Aku di depan mu, tapi jiwaku sepi
Kau di sisi, tapi tak pernah benar-benar di sini
[A cello begins to hum low notes on final line]
[Add ambient guitar textures, cello, soft bass pulse]
Kau pandang aku, seolah tak kenal
Cinta ini jadi beban, bukan bekal
Aku genggam janji dalam tangan berdarah
Tapi kau campak semua, seakan tak bersalah
[Strings build slowly, soft percussive pulse enters]
Aku masih cuba
Tapi kau makin jauh
Setiap kata kau,
Racun yang halus menyusup tubuh
[Full emotional swell — piano, strings, ambient guitars, bass, soft drums]
Sakit… bukan luka biasa
Ini parah, tapi aku tetap tak berdaya
Aku jerit dalam diam
Kasih ini kau sumbat dalam kelam
Sakit… bila cinta jadi senjata
Kau tikam, tapi tak pernah rasa
Dan aku tetap di sini
Yang kau lupakan hari demi hari
[Drop drums, return to piano, cello, guitar delay]
Pernah kau tanya aku kenapa aku diam?
Kerana bila aku bersuara, kau anggap ku menyusahkan
Aku telan kecewa, hari demi hari
Kau pergi, walau jasadmu masih di sisi
[Strings lead here — slow, cinematic rise. Pads deepen. Drums re-enter slowly]
Tak ada siapa yang nampak
Air mata ini tak sempat jatuh
Sebab aku harus kuat
Untuk cinta yang kau anggap rapuh
[soft crashing cymbals, layered strings, emotional vocal delivery]
Sakit… sepi dalam rumah ini
Bayangmu, bukan lagi sinar yang ku cari
Aku suarakan tanpa bunyi
Sebab aku tahu kau tak mahu dengar lagi
Sakit… ini jeritanku yang kau tak dengar
Dalam pelukan yang kini hambar
Namun ku tetap bersamamu
Sampai kapan pun, ku tak pasti
[Fade out drums, strings. Only piano and ambient pad left]
Sakit…
Tapi aku diam…
Sebab mencintaimu…
Pun… satu penderitaan…
[Last piano note lingers with a long reverb]