Malam turun tanpa bintang
Kabut hitam menutup pandang
Di gereja tua berdiri sepi
Ada rahasia yang tak terucapi
Langkah kaki terhenti
Saat bayangan melintas cepat
Di dinding retak terdengar tangis
Seakan jiwa masih terikat
Darah dingin mengalir di dada
Saat dentang pertama berbunyi...
Tujuh lonceng berdentang
Membangunkan arwah terlarang
Suara jerit menggema panjang
Membelah malam, menelan tenang
Lilin redup, api menari
Cahaya rapuh hampir mati
Pintu kayu berderit perlahan
Menguak dunia yang terlupakan
Hela nafas terasa berat
Seakan ada yang mengintai dekat
Tangan tak terlihat menyentuh kulit
Membisikkan janji penuh laknat
Jangan menoleh, jangan bernyanyi
Sampai dentang ketujuh berhenti…
Tujuh lonceng berdentang
Membuka jalan menuju kegelapan
Arwah hitam menunggu di ujung
Mengambil jiwa yang kehilangan
Dentang ketiga, bayangan tertawa
Dentang keempat, langit retak suara
Dentang kelima, lilin padam semua
Dentang keenam, darah menetes nyata
Dan dentang ketujuh…
Pintu terbelah…
Sang penguasa gelap
Turun membawa amarah
Tujuh lonceng berdentang
Dunia terbelah, neraka terbuka
Tak ada doa, tak ada terang
Hanya jeritan di tengah luka
Tujuh lonceng… tujuh malam…
Tujuh arwah… tujuh dendam…
Darah mengalir, jiwa terikat
Gelap menelan…
Selamanya…