Di kamar sempit ini dinding ikut berteriak
Lampu kuning bergetar, bayangku tampak retak
Jam di sudut ruangan memaku setiap detik
Seolah ikut tertawa melihat aku yang terus terusik
Kucoba buka pintu, tapi dunia tetap bisu
Hanya gema langkahku yang kembali padaku
Biarkan aku sendiri, teriak pada langit malam
Kalau ini takdirku, kuhadapi tanpa tenggelam
Api di dadaku takkan pernah padam lagi
Meski selamanya hanya aku dan sepi berdiri
Kupukul dada ini iringi dentum hujan
Akan kuciptakan panggung dari runtuhan waktuku
Dari puing kesunyian, kupeluk semua amarah
Api di dadaku, biar jadi saksi
Kesendirian abadi ini takkan pernah bisa membunuhku lagi