(Verse 1)
Langkah kaki di pasir putih,
Senja indah, tapi hati perih.
Tangan terulur bukan menyapa,
Tapi menagih tanpa alasan nyata.
Tiket masuk sudah dibayar,
Tapi suara kasar mulai terdengar.
Parkir liar, pungli bersinar,
Liburan berubah jadi mimpi yang liar.
(Chorus)
Bayar damai, katanya adat,
Padahal cuma topeng jahat.
Wisata alam jadi ladang uang,
Di bawah bayang preman yang garang.
Bayar damai, tutup mulut,
Kalau protes, siap disikut.
Mana hukum, mana nurani?
Kita butuh tempat yang aman lagi.
(Verse 2)
Anak kecil lihat adegan keras,
Belajar takut, bukan bebas.
Pedagang lokal pun tertekan,
Karena “penguasa” bukan pemerintahan.
(Bridge)
Ini bukan budaya, ini pemaksaan,
Bukan tradisi, tapi ancaman.
Mari bersuara, mari lawan,
Agar wisata jadi tempat aman.
(Chorus)
Bayar damai, katanya adat,
Padahal cuma topeng jahat.
Wisata alam jadi ladang uang,
Di bawah bayang preman yang garang.
(Outro)
Suara rakyat tak bisa dibungkam,
Kita bersatu, kita berjuang.
Aksi premanisme harus dihentikan,
Agar keindahan tak ternoda ancaman.