[Intro]
Kopi basi, rapat lagi, data berubah tiga kali
Tapi katanya, “kita keluarga di sini.”
Keluarga yang cuma inget waktu lembur gratis.
[Verse 1]
Jam delapan kurang dua, notifikasi berbunyi
“Bro, udah dikirim belum?” padahal baru login
Rasa hormat kadang jadi template
Seperti slide yang diubah tapi maknanya sama aja: "urgent."
[Pre-Chorus]
Aku belajar diam dari noise group kantor
Belajar sabar dari revisi tanpa dasar
Belajar arti “profesional”
Dari mereka yang paling kencang tapi kerja paling enteng
[Chorus]
Senyum di balik deadline,
Sopan di tengah ironi~
Katanya teamwork tapi KPI beda sendiri~
Senyum di balik drama,
Kalimat “noted” jadi doa~
Biar Tuhan tau, aku masih waras di dunia maya~
[Drop]
[Verse 2]
“Semangat, ya!” katanya dari layar kaca
Tapi tangannya nggak pernah bantu ngetik apa-apa
Semua diminta cepat, tapi rapatnya lama
Lama-lama kupikir: mungkin ini agama baru—Korpo-Ratisme.
[Bridge]
Kalau sabar bisa diuangkan
Aku udah beli pulau di Karibia
Kalau diam dianggap berprestasi
Aku udah jadi CEO dari rasa frustrasi~
[Final Chorus]
Senyum di balik deadline,
Bukan lagi sabar, tapi survival mode
Katanya “kerja cerdas”, tapi kita cuma robot lembut
Senyum di balik drama,
Kalimat “baik pak” jadi mantra
Dan kita pun menari di ujung burnout—
Dengan jazz lembut, dan mata yang merah muda~
[Outro Spoken]
“Terima kasih, teman-teman.
Target bulan ini naik lagi. Tapi kita kan keluarga, ya?”